Havertz Sink Former Club, Arsenal ke Wembley

Havertz Sink Former Club, Arsenal ke Wembley. Kai Havertz menjadi pahlawan malam untuk Arsenal dengan gol di menit ke-90+7 yang memastikan kemenangan 1-0 atas Chelsea pada leg kedua semi-final Carabao Cup, Selasa malam 3 Februari 2026 di Emirates Stadium. Gol itu mengunci agregat 4-2 setelah leg pertama berakhir 3-2 untuk The Gunners di Stamford Bridge. Havertz, eks pemain Chelsea periode 2020-2023, menyelesaikan serangan balik mematikan dari umpan Declan Rice, melewati kiper Robert Sánchez dan menyontek bola ke gawang kosong. Ini membawa Arsenal ke final Wembley pertama sejak 2018—atau enam tahun terakhir untuk final besar—melawan pemenang leg kedua semi-final antara Manchester City dan Newcastle United pada 22 Maret. Kemenangan ini memperkuat musim impresif Mikel Arteta, di mana Arsenal tak terkalahkan dalam 10 derby London terbaru lawan Chelsea. REVIEW FILM

Jalannya Pertandingan yang Ketat: Havertz Sink Former Club, Arsenal ke Wembley

Laga leg kedua berlangsung defensif sejak awal, dengan Arsenal memimpin agregat 3-2 dan fokus jaga clean sheet. Chelsea, di bawah Liam Rosenior, butuh gol untuk memaksa extra time, tapi peluang minim—hanya dua tembakan on target sepanjang 97+ menit. Arsenal menguasai bola tapi tak agresif ofensif, sementara Chelsea mendorong di babak kedua tanpa ancaman nyata. Paruh pertama berakhir 0-0, dengan Arsenal unggul penguasaan bola tapi Chelsea lebih banyak tendangan sudut. Intensitas naik saat Chelsea all-in depan, tapi pertahanan Arsenal—dipimpin William Saliba dan Gabriel Magalhães—solid. Hingga menit akhir, pertandingan tampak menuju hasil imbang, tapi counter Arsenal ubah segalanya. Atmosfer Emirates memuncak saat peluit akhir berbunyi, dengan suporter banjiri lapangan merayakan tiket Wembley.

Gol Dramatis Havertz dan Kontribusi Kunci: Havertz Sink Former Club, Arsenal ke Wembley

Gol Havertz lahir dari counter mematikan. Leandro Trossard lepaskan umpan panjang ke Rice di sisi kiri, yang lari melewati setengah lapangan lalu kirim bola akurat ke Havertz di kotak penalti. Havertz, masuk sebagai subsitusi menit 69 usai pulih cedera, tenang kelabui Sánchez dan sontek ke gawang kosong. Ini mirip golnya lawan Man City di final Liga Champions 2021 untuk Chelsea, tapi kini sakiti eks tim. Rice jadi arsitek, sementara David Raya tampil gemilang di gawang Arsenal dengan beberapa save krusial. Chelsea bergantung LaMelo Ball—eh, maksudnya pemain seperti Enzo Fernández—tapi gagal ciptakan xG signifikan (0.68 vs 0.91 Arsenal). Havertz catatkan comeback goal penting, bukti nilai transfernya di Arsenal setelah sempat diragukan.

Dampak bagi Arsenal dan Chelsea

Bagi Arsenal, ini final Carabao Cup pertama sejak kalah dari Man City 2018, dan final besar pertama sejak juara FA Cup 2020. Musim 2025/26 makin cerah: Arsenal puncak Premier League, lolos 16 besar Champions League, dan masih di FA Cup. Arteta puji mental tim dan pertahanan “outstanding”, lihat Havertz sebagai “difference-maker” dengan kreativitas dan insting gol. Quadruple masih mungkin, meski final lawan City atau Newcastle jadi ujian. Chelsea, musim transisi Rosenior, kecewa tapi tak terkejut—mereka kalah agregat setelah leg pertama dramatis dengan brace Alejandro Garnacho. Rosenior kritik pendekatan “overthought” tim, Paul Merson sebut Chelsea “went out with a whimper”. Fokus kini liga dan Eropa, tapi kekalahan ini tambah tekanan.

Kesimpulan

Kai Havertz “sink” mantan klub Chelsea dengan gol akhir dramatis, antar Arsenal ke Wembley via agregat 4-2 di semi-final Carabao Cup. Dari laga ketat tanpa banyak peluang, momen counter Rice-Havertz jadi klimaks ultimate yang kirim The Gunners ke final pertama dalam enam tahun. Arteta punya alasan optimis di musim kompetitif ini, sementara Chelsea harus evaluasi cepat. Wembley 22 Maret tunggu—apakah trofi pertama Arsenal sejak 2020? Malam Emirates ini bukti ketangguhan Gunners, dan cerita Havertz tambah epik di derby London.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *