Lamine Yamal Disebut Tidak Akan Bisa Saingi Lionel Messi. Lamine Yamal, wonderkid Barcelona berusia 18 tahun, terus jadi pusat perbincangan di 2025. Dengan 31 gol dan 40 assist dari 117 penampilan sejak debut di usia 15 tahun 9 bulan, ia pimpin penjualan jersey global tahun ini—1,3 juta unit, unggul tipis dari Lionel Messi yang jual 1,2 juta. Namun, di balik hype itu, muncul suara kritis: Yamal takkan pernah saingi level Messi. Mantan pemain Prancis Louis Saha, eks Manchester United, tegas bilang Yamal kurang “obsesi” seperti Messi dan Cristiano Ronaldo. Pernyataan ini meledak usai laga Barcelona vs Atletico Madrid akhir pekan lalu, di mana Yamal beri assist krusial meski timnya seri 1-1. Apakah ini akhir dari mimpi “next Messi”? INFO SLOT
Kurangnya Obsesi yang Jadi Kelemahan Utama: Lamine Yamal Disebut Tidak Akan Bisa Saingi Lionel Messi
Saha, bicara ke OLBG, bilang Yamal punya bakat luar biasa tapi tak punya obsesi gila yang bikin Messi dan Ronaldo beda kelas. “Saya ragu ia bisa capai itu karena saya lihat kualitasnya, tapi tak ada obsesi fokus total ke sepak bola seperti Ronaldo,” ujarnya. Messi, sejak remaja di La Masia, hidup untuk bola—latih ekstra, diet ketat, dan hindari distraksi. Yamal, meski juara Euro 2024 dan final Nations League 2025 dengan Spanyol, sudah mulai terganggu gosip pribadi. Pubalgia yang kambuh musim ini batasi ritmenya, dan konversi tembakan turun jadi 12%—jauh di bawah Messi di usia sama (18%). Saha khawatir Yamal ikut jejak Neymar: talenta gila tapi lifestyle buruk bikin cedera dan penurunan performa.
Perbandingan Karier yang Tak Seimbang: Lamine Yamal Disebut Tidak Akan Bisa Saingi Lionel Messi
Yamal debut lebih muda dari Messi—15 tahun vs 17 tahun—dan sudah punya trofi La Liga 2022/23, Copa del Rey, dan Super Cup Spanyol. Di 19 caps untuk Spanyol, ia cetak empat gol, sesuatu yang Messi tak capai sampai usia 18. Tapi angka keseluruhan beda jauh: Messi di usia 18 sudah 20 gol untuk Barcelona, sementara Yamal baru 31 gol total. Jordi Alba, mantan rekan Messi di Barca, tegas bilang, “Tak ada perbandingan mungkin antara Lamine dan Leo.” Alba ingat Messi sebagai “tak punya rival”, dengan visi permainan yang ubah taktik sepak bola modern. Yamal memang mirip: kiri kaki di sayap kanan, dribel halus, tapi ia masih bergantung Frenkie de Jong dan Pedri untuk ciptakan peluang—bukan seperti Messi yang mandiri sejak dini.
Distraction dan Tekanan yang Mengancam
Saha sebut distraksi sudah mulai muncul: gosip asmara, endorsement Adidas yang pakai video Messi untuk tarik Yamal, dan tekanan jadi “penerus”. Di usia 12, Marca sudah bandingkan ia dengan Messi, tapi Deco, direktur olahraga Barca, bilang, “Lamine adalah Lamine. Leo adalah Leo.” Yamal sendiri tolak perbandingan: “Saya tak mau bandingkan diri dengan siapa pun, apalagi Messi.” Mantan pelatih Messi, Henk ten Cate, malah bilang Yamal lebih baik di usia itu—tapi itu minoritas. Wesley Sneijder dari Real Madrid yakin Yamal bisa lewati Messi, tapi Saha yakin tak: “Yamal seperti Neymar—kualitas beda level, tapi gaya hidup bisa rusak semuanya.” Cedera hamstring Pedri musim ini tambah beban Yamal, yang main 90% menit di La Liga.
Kesimpulan
Debat Yamal vs Messi tunjukkan Yamal punya potensi jadi bintang generasi ini—penjualan jersey nomor satu bukti popularitasnya. Tapi tanpa obsesi Messi, ia berisiko stuck di level bagus tapi tak legendaris. Di 2025, dengan Ballon d’Or runner-up dan Euro hero, Yamal butuh fokus total untuk bukti kritik salah. Barca harap ia jadi ikon baru, tapi sejarah bilang: talenta tanpa disiplin cuma janji kosong. Yamal, dengar baik-baik: Leo tak punya rival karena ia tak beri ruang untuk satu. Saatnya Yamal ikuti jejak itu, atau jadi cerita “what if” selanjutnya.